Akhir-akhir ini sy suka mengikuti lomba & Quiz, walau banyak kalahnya tapi senang bisa berkopetisi dengan rekan-rekan di dunia maya.
Tanpa luka dan cedera tapi sesungguhnya habis bertarung melawan ratusan bahkan ribuan rekan yang seminat.
Berikut adalah blogger pemenang nomor wahid dijaminmurah.com
Sengaja saya posting disini untuk bahan belajar saya dan mungkin rekan cyber yanglain dalam menghadapi pertarungan berikutnya di acara yang lain.
"Indonesia Versus Siapa?"
Aku suka harmoni yang dibuat oleh subuh. Ada kearifan yang berpadu. Embun tidur di relung belukar dan dedaunan bersiap menyergap sinar matahari yang mulai beringsut, lalu manusia belum sempat banyak beradu di jalanan, sedang mereka masih mengumpulkan nyawa untuk dipekerjakan pukul tujuh nanti. Kecuali aku. Aku cinta pada dawai subuh dan banyak kompromi dengan udaranya yang membuat gigiku bergemeletuk. Semuanya, Semata-mata demi sekolah, yang entah mengapa aku berada di tempat nun jauh itu--di Bandung, sedangkan rumahku di Padalarang, sekitar satu jam jalan darat yang sesak dan menyesakkan. Uh, itu melelahkan, kawan. Setiap hari aku ada di remang-remangnya. Kecuali kakak mau antar, ya ada waktu untuk leyeh-leyeh barang sepuluh menit dan bola berpijar sudah menyundul. Hari ini tidak.
Hiyaaaat! Kukejar kotrima alias bus tiga per empat yang hobi berhenti di tengah jalan dan berhobi yang satu ini: bergerak sebelum penumpang rampung duduk pun. Tanya kenapa? Sudah tabiat barang kali. Buruknya lagi, hari ini aku tidak mendapat bagian untuk duduk. Terpaksa berdiri, menaruh nasib pada besi legam dan musti bersiap diri dari penumpang lain yang kadang usil mepet-mepet. Sedikit info buat Anda, bus ini juga BAU. Kadang, aku suka dengar keciak ayam.
Senin peng-awal minggu, jalan biasanya lebih padat. Tahu sendiri, kan upacara bendera. Biasanya aku dan putih abu, hari ini, aku menggunakan pakaian pramuka lengkap! Aku sebenarnya malu karena saat di sekolah, akan sedikit berbeda dengan yanglainnya. Ah .. tapi kan aku patriot, karena memang begini baju kebesarannya. Lagi pula, aku menggunakan baju ini karena nanti siang aku akan mengikuti upacara Hari Pramuka Indonesia di Gedung Sate, lalu bertemu dengan Pak Heriawan plus Pak Dede Yusuf. Hebat!
***
Panah speedo meter pak supir, belok ke kiri. Tak ayal, ini sih sudah tradisi kalau ban kendaraan Anda menempel di jalan Rajawali yang kusut walau jam pagi baru saja masuk. Semua kisruh, riuh rendah suara derum-derum gas tertahan. Aku tetap tenang. Sudah biasa. Kalau pun terlambat pasti banyak kawannya. Kalau masuk neraka juga banyak kawannya? Ah, itu lain lagi halnya.
"Lucu, kamu hari ini mengenakan baju pramuka. Kupikir kau tadi kesandung di lumpur" gumam seseorang yang merapat padaku dari arah belakang.
"Hus, ini baju kebesarannku. Kalau boleh sebut nama, Jenderal Doktor Haji Susilo Bambang Yudhoyono juga pakai baju ini" jawabku, meski belum sempat menatap mukanya.
"Uoh" tambatnya singkat.
Singkat, tapi sangat khas dan membuatku lekas yakin: Ini dia si Yudis--Yudis si produsen aktif catatan hitam di sekolah. Aku tengah melukis dalam kepalaku: bagaimana ceritanya kalau dia dan baju kucelnya, rambut merahnya, dan tas bolongnya sedang sama-sama menggantung pada besi di bus kecil nan sumpek ini, dan menempelkan aroma menyengatnya ke bajuku, Ah! Bisa tidak siuman!!! Semoga saja dia tidak membuka sepatunya sebelum kendaraan ini oleng karena pak supir dijamin pingsan. Uoh! Berlebihan. Huuh. Kenapa pula aku harus bertemu aroma keringat yang khas dan aneh, juga menjijikkan, meyebalkan serta penuh bakteri juga virus A ini? Aku curiga akan datang kesiangan dan tidak bisa mengikuti upacara kalau aku memiliki jam yang sama dengannya. Dia ini pawang guru piket yang menjaga pintu gerbang. Ah, entah dia terlalu sering telat hingga tak perlu digubris lagi, ya?
"Yud, hari ini bangun kesiangan nggak?" tanyaku.
"Sering telat tuh neng, jadi jam saya tiap pagi ya sama saja", jawabnya enteng.
"Neng"? Dia amnesia! Namaku saja dia lupa. Berarti tadi dia menyapaku karena sekadar lupa-lupa ingat wajahku saja, bukan benar-benar merasa kenal denganku. Itu membuat leherku tersedak sebal, lalu sedikit menelan ludah. Ya sudah, d-i-a-m sajalah!
***
Ayolah ... Aku sudah diam sedari tadi. Menunduk, membisu, dan pura-pura tuli sekadar membuatku lupa bahwa monster ini ada di belakangku. Tapi gatal nian tangannya. Dia menggantungkan barang-barang aneh di rambutku. Tak tahulah apa itu. Sebenarnya aku tak sudi merespon barang sekali.
"Kamu itu menggemaskan. Kenapa harus ikut pramuka segala sih? Padahal sudah manis begini, kok senang panas-panasan" tanya manusia prokem itu.
"Ini dedikasi yang luar biasa dalam membentuk pribadimu sendiri, dan dalam membentuk masyarakat" jawabku singkat.
"Kenapa harus?"
"Kalau kamu sudah besar, kamu akan sadar betapa menyedihkannya kamu tanpa menjadi seseorang yang berguna bagi nusa dan bangsamu"
"Bodoh!"
"Apa maksudnya?"
"Itu terdengar gila"
"Aku sungguh-sungguh. Membentuk kepribadianmu yang baik akan memberi sugesti yang baik untuk lingkungan, lalu berkebang sehingga itu akan membuat kamu bekerja untuk bangsamu. Sadar, atau tidak sadar. Makanya, aku selalu membawa bendera di leherku. Ini membangkitkan gairahku bekerja untuk nusa dan bangsa. Luar biasa! Ini namanya kacu"
"Phikatcu!"
"Kau meledekku?" Kunaikkan alisku lalu menusuk pandangannku padanya, saat menoleh.
"..."
Lambat laun aku naik darah, tapi cuma bisa ditahan. Gemas dengan ledekan Yudis dan gemas dengan bus ini. Sudah seperempat jam, tapi belum sampai dua puluh meter pun. Gerangan si Komo lewat? BUkan, bukan itu, tapi lebih besar dan lebih buruk. Tak jauh dari sini, ada belokan jalan Garuda. Hati siapa tak meledak kalau tahu ada kereta yang berhenti di tengah jalan! Sebuah mesin berjalan sebesar tiga puluh deret gajah Afrika sedang teronggok lunglai di tengah jalan yang padat merayap dan sesak akan para penyedak jalan yang sama-sama suka terobas-terobos. Tidaaak! Aku harus tiarap sebelum mulut guru piket jadi BOM atau kaca di sekolah pecah karena beliau marah-marah, gara-gara aku t-e-r-l-a-m-b-a-t! Ah, dan benar saja. Sudah lewat satu menit lebih dari jam masuk. Rrgghh.. Tidak ada kepastian, kecuali :
t-e-r-l-a-m-b-a-t.
Aku hanya dongkol dalam hati, sampai akhirnya turun bus pus tetap demikian.
Aku tidak punya banyak pikir dengan pria rambut merah, Yudis. Dia banyak mendumel, berkeluh, tong kosong. Lelah. Tergopoh-gopoh aku menuju ke sekolah, hingga dengan mantap butiran hangat yang berpolarisasi di kemeja putihku. Deras terasa alirannya. Aku hanya mendapati gerbang sekolah tertutup saat Sang Merah Putih tengah dikerek menuju puncak kejayaannya di ujung tiang. Refleks, badanku tegap menghadap sang saka lalu kuhormati dia dengan tangan kananku, meski aku pun hanya berada di luar gerbang saja. Aku tidak suka hari ini karena aku terlambat. Itu menyebalkan. Apalagi kalau sama-sama terlambat dengan Yudis. Aku terlmbat melihat merah-putih naik ke singasana. Aku ingin menangis karena terharu, tapi aku malu dan terlalu munafik jikalau musti kulontarkan jimat menangis yang satu ini "Ah, hanya kelilipan". Ouh.
"Kamu bodo ya? Untuk apa hormat bendera? Kita kan tidak ikut upacara, enak kan?" gumam Yudis. Ah, lagi-lagi Yudis bergumam.
"Aku tidak memberi hormat pada benang-benang yang dijalin menjadi kain butut itu" jawabku
"Iu lebih bodoh, dengan siapa?"
"Ketika ujung tanganmu bertemu ujung alismu, ketika badanmu meraih tegap dan sepenuh jiwamu dikhidmatkan, kamu akan berpikir tentang masa lalu, tentang para pahlawan kemerdekaan, tentang perjuangan menaikkan bendera itu, tentang kemerdekaan yang kita raih, tentang bumi yang kamu pijak dan tentang siapa kamu di hadapan merah putih itu, serta merah putih sebagai saksi bisu kebebasan kamu hari ini"
"Bagaimana bisa?"
"Bisa. Memang hanya bisa bagi mereka yang mau berpikir. Kalau hanya membiarkan upacara ini kering, sama saja dengan buang waktu. Cara ini sedikit kuno karena membuatmu berpikir 'baiklah, ini formalitas sekolah yang harus kulakukan', tapi kalau mau cari esensinya, ini sangat menyenangkan. Apa kamu pernah memikirkan bagaimana kita bernyanyi di saat yang sama, dengan nada dan ketukan yang sama, dengan judul dan syair yang sama, hormat pada bendera yang sama, mendengarkan Pembukaan UUD yang sama, mengucapkan Pancasila yang sama, serentak di seluruh penjuru Indonesia, bersama kepala lain yang beda warna kulitnya, beda bahasanya, beda budayanya, beda adatnya, yang tersebar di beribu pulau di antara gelombang-gelombang samudera dan laut-laut biru dalam. Ini menyenangkan! Ini bukti, kita sudah merdeka dan bebas menyanyikan lagu yang sama-sama kita suka atau mendengarkan siapa kita di mata merah putih itu"
...Kemerdekaan adalah cahaya matahari pagi
Hangatnya menegaskan semangat untuk menjadi...
-J.Geovanie
"Menjadi merdeka itu luar biasa bukan? Kamu bisa mendalami sendiri bagaimana hakikatnya menjadi bangsa yang merdeka. Kalau kamu mau, ikut saja pramuka. Aku tidak bisa mengungkapkan perasaan ini dengan kata-kata yang indah. Aku bukan penyair. Tapi aku sungguh merasakan betapa senangnya menjadi anak Indonesia saat menjadi seorang pramuka yang bebas. Seorang anak dengan merah putih di lehernya." tambahku.
"Mau jadi apa memangnya di masa depan? Makan dari semaphore dan morse?"
"Jangan buta dan tuli. Aku sedang membentuk karakter. Mencari kebenaran mentalitas. Kalau aku besar dan menjadi 'orang besar', aku sudah siap meneruskan kemerdekaan!" tukasku
"Ahaha, terlalu bersemangat. Tapi kamu tidak cukup untuk memerdekakan rakyat pra-sejahtera, neng" katanya singkat.
"Baiklah, sekarang ini aku bukan elite politik, bukan inovator ulung, bukan rich kid yang bisa memberi orang miskin makan seribu tahun pun, bukan juga penggerak masyarakat atau apa-apa yang luar biasa seperti yang kamu pikirkan. Tapi setidaknya, aku berusaha berbuat yang baik bagi diriku sendiri dan atau orang lain. Itu sugesti yang paling baik bagi atmosfer lingkungan kita. Aku bukan preman yang hidup di alam permisivisme dan dengan seenak jidat merusak keteraturan, atau menyebarkan energi negatif pada masyarakat dengan tindak tanduk yang semerawut" jawabku
"Seperti apa?"
"Seperti orang ini" jawabku lagi sambil menekan dadanya dengan telunjuk.
"Apa itu artinya merdeka buatmu dengan menjadi anak baik-baik?"
"Buatku, iya. Aku sudah memerdekakan diriku sendiri untuk berbuat yang baik-baik. Kalau aku baik, kamu baik, semua orang bersugesti yang baik-baik, negaraku akan baik-baik saja dan benar-benar merdeka"
"Oh ya? Kamu pikir kita tidak sedang melawan penjajahan ekonomi? lihat saja bangsa China yang banyak memegang pasar kita!" sanggahnya bangga.
"Kalau begitu, hari ini genderang perangnya semakin jelas terdengar, bukan? Kemerdekaan kita adalah melawan diri sendiri. Mungkin, kalau kamu tidak jadi beli handphone baru made in China kemarin, kamu bisa mengakomodasi kekuatan ekonomi kita sendiri. Atau mungkin membeli barang non-impor. Asal kamu tahu, dibanding menggunakan jasa pembelian domain dan hosting luar negeri yang terkenal, aku lebih memilih membeli hosting di dijaminmurah.com untuk menyalurkan hobi, dan proses kretif di dunia maya. Ah, jangan lupa dihitung juga tentang perekonomian kita yang tumbuh dari bisnis internet, seperti milik kakakku. Hosting di dijaminmurah.com selalu aktif, jarang sekali maintenance yang membuat situsnya sulit diakses atau bila ada pun hanya dilakukan di tengah malam saat kau sedang tidur alias tidak produktif. Itu memuluskan pekerjaan, bukan? Seperti itulah perekonomian kita tumbuh di jejaring ini bersama dijaminmurah.com. Kamu juga mau kan merasakan kemerdekaan finansial?"
"Ya.. Apa itu Dijaminmurah?"
"Bagus dan yahut. Itu PR-mu. Cari sendiri! Intinya, ini ide brilian"
"Jadi begitu, kenapa ibu bilang kita harus jadi anak baik dan berguna bagi bangsa ..."
"Ya. Sedikitnya seperti itu. Banyaknya, akan diketemukan sejalan kamu hidup dan berpikir" jawabku
"Lucu"
"Bukan lucu, ini luar biasa, bodoh!" kataku
"Tak!!" jitakanku mendarat di kepala lengketnya (belum keramas).
"Jadi, kapan aku harus berbuat?"
"Sekarang, sebelum langit berwarna kesumba" jawabku
"Dan kemerdekaan kita ..."
"Bisa kita isi sendiri" tukasku sebagai penutup.
***
"Ratna, apa kamu indigo, atau sedang bermimpi jadi filsuf?"
"Tidak. Entahlah. Ah, kurasa kamu berlebihan ... Kita kan hanya bicara masalah sehari-hari" aku berlalu dari pandangannya yang dalam terhadapku laksana aku begitu tabu. Lalu menyimpul senyum yang menyulut lesung pipiku mencekung. Pikirku,
"kenapa aku harus menjawab pertanyaannya seperti serdadu menghadap jenderal, atau mungkin tadi tampak seperti tikus MPR yang bersilat lidah di sidang KPK--meski itu bukan. Padahal, aku bisa kunci mulut dan membiarkan dia menyalak, mengoceh sejadi-jadinya".
***
Baca Selengkapnya...